Sunday, 20 November 2011

istikharah cinta

bersaksi cinta di atas cinta                                                                                                                            
dalam alunan tasbihku ini
menerka hati yang tersembunyi
berteman di malam sunyi penuh doa

sebut namamu terukir merdu
tertulis dalam sejadah cinta
tetapkan pilihan sebagai teman
kekal abadi hingga akhir zaman

istikharah cinta memanggilku
memohon petunjuk Mu
satu nama teman setia
naluriku berkata

dipenantian luahan rasa
teguh satu pilihan
pemenuh separuh nafasku
dalam mahabbah rindu

di istikarah cinta....

Monday, 6 June 2011

Apabila diri rasa disayangi

Ya Allah....
Jika Engkau ciptakan untukku.
Tolong satukan hati kami.
Bantulah daku untuk mencintai,
Memahami dan menerima dia seutuhnya.
Berikan aku kesabaran, ketekunan, dan
Kesungguhan untuk memenangi hatinya.

Jadikanlah kehendak Mu dan
bukan kehendak aku dalam
setiap bahagian hidupku.

Ya Allah...
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna.
Namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna,
Sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata Mu,
Seorang ikhwah yang memerlukan dukunganku sebagai peneguhnya,
Seorang ikhwah yang memerlukan doaku untuk kehidupannya,
Seseorang yang memerlukan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya,
Seseorang yang memerlukan diriku untuk
membuat hidupnya menjadi sempurna....
amin....Ya Rabbul 'alamin....

Sunday, 22 May 2011

stanza cinta buatmu Mujahid Mufakkir Mujaddid

Berderai mata hatiku
mendera semua harapan
selaksa cintaku padanya
ikatan suci romantika naungan-Mu

Meski sejuta cinta menyapa
Masih cenderung ku padanya
Tuhan, satukan hati kami
Di bawah cinta-Mu alirkan bahagia
Di redha-Mu

Kutidurkan mimpi indah ini
Pada-Mu yang menggenggam takdir
Kusandarkan harapanku ini
pada-Mu ya Ilahi,
Ku simpan dalam rongga hati
Stanza Cinta buatmu Mujahid Mufakkir Mujaddid


Wednesday, 18 May 2011

Futuwwah Cinta

alt
nilah dia cinta
Pak Rahmat mengatakan, cinta itu dakwah, dan dakwah itu cinta.
Dan dakwah ini mengenal kita pada Dia.
Mentaqarrubkan kita pada Dia.

Masuliyah fardhiyah kita adalah untuk sentiasa mendampingi kitabNya, mengikuti sunnahNya dan beriltizam dengan akhlak QuraniNya.

Dan seluruhnya dibuatkan kerana Dia.
Dan Dia semata.
Dan itulah dia cinta.
Bila segalanya dihadapkan pada Dia.
Dan cinta itu mengalunkan kita pada syahadahNya
Menerokai puncak-puncak kekuasaanNya,
dan mengegarkan kita akan azabNya,
akan kelam kelibut hari kebangkitan.
Mengetarkan hati kita pada Hari AkhiratNya.
Dan itulah dakwah ini mengenalkan kita.
Akan hari akhirat yang pasti, tempat terdorongnya kita untuk bertemu dengan Dia.
Dan bila segalanya dipusatkan pada Dia, adakah pilihan lain selain dari bertawakal kepadaNya?
Menyerahkan semua urusan kepadaNya?
Yakin akan janjiNya memberikan sesuatu yang terbaik buat diri kita, hambaNya.
Dan demikianlah itu cinta.
ianya yakin
redha
dan saliim..
Cinta itu menautkan hati kita pada semua hambaNya.
Dalam cinta yang tidak dimengertikan
walau tak pernah bersua
mengenal
mahupun bersentuh
itulah dia cinta
anugerah atas cinta keranaNya
Dan itulah dia cinta,
tidak meresahkan,
tidak mengelisahkan
tidak merisaukan,
apatah lagi menyebabkan putus asa.
Kerana setiap pilihan kita,
tindakan kita
dan langkah kita,
adalah demi cintaNya.
Yakinlah,
Allah akan sentiasa bersama kita,
melukiskan kanvas yang indah buat kita.
Samada di dunia, mahupun di syurga kelak..
Insya-Allah..
Inilah dia sepotong doa baginda buat kita:
Ya Allah, kurniakalah perasaan cinta kepada-Mu, dan cinta kepada orang yang mengasihi-Mu, dan apa sahaja yang membawa daku menghampiri cinta-Mu. Jadikanlah cinta-Mu itu lebih aku hargai daripada air sejuk bagi orang yang kehausan.
Moga aku menyintai mereka yang mendekatkan aku akan cintaNya... ameen...

Sunday, 15 May 2011



Ketika Allah Memilihmu Untukku..


Padamu yang Allah pilihkan dalam hidupku..
Ingin ku beri tahu padamu..
Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia..
Orang tua yg begitu sempurna..
Dengan cinta yg begitu membuncah..
Aku dibesarkan dgn limpahan kasih yang tak terhingga..
Maka, padamu ku katakan..
Saat Allah memilihmu dalam hidupku,
Maka saat itu Dia berharap, kau pun sanggup melimpahkan cinta padaku..
Memperlakukanku dgn sayang yang begitu indah..


Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, aku hanya wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku,
Aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin kau harapkan..
Maka, ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dgn keberadaanmu.
Dan aku tahu, Kaupun bukanlah laki-laki yang sempurna..
Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirimu..
Karena kelak kita akan satu..
Aibmu adalah aibku, dan indahmu adalah indahku,
Kau dan aku akan menjadi 'kita'..


Padamu yg Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, sejak kecil Allah telah menempa diriku dgn ilmu dan tarbiyah,
Membentukku menjadi wanita yg mencintai Rabbnya..
Maka ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Allah mengetahui bahwa kaupun telah menempa dirimu dgn ilmuNya.. Maka gandeng tanganku dalam mengibarkan panji-panji dakwah dalam hidup kita..
Itulah visi pernikahan kita..
Ibadah pada-Nya ta'ala..


Padamu yg Allah tetapkan sebagai nahkodaku..
Ingatlah.. Aku adalah mahlukNya dari tulang rusuk yang paling bengkok..
Ada kalanya aku akan begitu membuatmu marah..
Maka, ketahuilah.. Saat itu Dia menghendaki kau menasihatiku dengan hikmah,
Sungguh hatiku tetaplah wanita yg lemah pada kelembutan..
Namun jangan kau coba meluruskanku, karena aku akan patah..
Tapi jangan pula membiarkanku begitu saja, karena akan selamanya aku salah..
Namun tatap mataku, tersenyumlah..
Tenangkan aku dgn genggaman tanganmu..
Dan nasihati aku dgn bijak dan hikmah..
Niscaya, kau akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuanmu..
Maka ketika itu, kau kembali memiliki hatiku..


Padamu yang Allah tetapkan sebagai atap hunianku..
Ketahuilah, ketika ijab atas namaku telah kau lontarkan..
Maka dimataku kau adalah yang terindah,
Kata2mu adalah titah untukku,
Selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua perintahmu..
Maka kalau kau berkenan ku meminta..
Jadilah hunian yg indah, yang kokoh…
Yang mampu membuatku dan anak-anak kita nyaman dan aman di dalamnya..


Padamu yang Allah pilih menjadi penopang hidupku…
Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita..
Maka didiklah mereka menjadi generasi yg dirindukan syurga..
Yang di pundaknya akan diisi dgn amanah-amanah dakwah,
Yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad..
Yang darahnya mengalir darah syuhada..
Dan ku yakin dari tanganmu yg penuh berkah, kau mampu membentuk mereka..
Dengan hatimu yg penuh cinta, kau mampu merengkuh hati mereka..
Dan aku akan selalu jatuh cinta padamu..


Padamu yang Allah pilih sebagai imamku…
Ku memohon padamu.. Ridholah padaku,
Sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi..
Mudahkanlah jalanku ke Surga-Nya..
Karena bagiku kau adalah kunci Surgaku..

kerana ENGKAU.....insan terPILIH...

Aduhai hati yang selalu gundah gulana.. Mengapa perlu difikirkan kehidupan duniawimu. Sedangkan dunia itu sering menipumu. Bukankah kehidupan ini penuh dengan majazi? Tipu daya di sana sini? Maka, hendaklah engkau susun langkahmu penuh hati-hati, Ingatlah, syaitan itu sentiasa tidak mahu mengaku kalah dan tidak pernah putus asa. Setiap saat masanya adalah berharga. Tidak dibiar kosong tanpa menyesatkan adam dan hawa. Lantas, bagaimana engkau masih lagi memikirkan hal duniamu?

Perbanyakkanlah berfikir, renung penuh bererti.. Bagaimana bakal kehidupanmu sewaktu mengadap Tuhan Rabbul ’Izzati..? Selamatkah dirimu di hari yang tiada pelindung melainkanNya? Akan beratkah amal yang akan engkau bawa?

Justeru, renungkanlah duhai diri yang lemah. Agar kehidupanmu di dunia sentiasa waspada..

Semoga, akan hadir dalam hatimu jiwa yang sensitif dengan dosa. Merasakan dosa itu besar sekalipun pada kesilapan sekecil zarah. Ketahuilah.. itulah antara ciri-ciri mereka yang aqrab dengan tuhanNya. Yang punya Ihsan dalam hatinya. Merasa kehadiran Allah dalam setiap sentuhan masa yang ada.. sekalipun mata tidak melihat, tetapi hati menyakini Allah Maha Mlihat.

Untuk apa perlu dirisaukan, aduhai hati yang rawan.. sebuah kehilangan itu hanya secebis dugaan.. dari Tuhan sekalian alam.. Hilang bukan bererti tamatnya sebuah kehidupan, tetapi dengan kehilangan itulah darjatmu ditinggikan. Hairan? Mengapa perlu dihairankan, Allah itu Maha berkuasa, zat yang sempurna penuh keagungan. Lupakah duhai hati, Allah telah berjanji dalam kalamNya Izzati..

”Adakah kamu mengaku beriman, sedangkan kamu belum diuji?”

Maka, hadapilah ujian dengan sejuta kesabaran. Percayalah, yakinlah sepenuh hatimu..


Hanyasanya Allah bersama-sama mereka yang sabar.

Aduhai hati yang penuh kesedihan.. Mengapa perlu ditangisi sebuah perpisahan? Bukankah semua kita akan pergi.. pulang kepangkuan Tuhan. Dialah yang menjadikan.. Dan padaNya jua segalanya akan dikembalikan. Lupakah engkau, hidup di dunia ini sekadar persinggahan. Yang kekal hanyalah amalan sebagai teman. Itulah teman dalam perjalanan menuju sebuah keabadian..

Maka, janganlah engkau lalaikan hatimu dengan kehidupan yang sementara ini. Janganlah engkau tangisi lagi sebuah perpisahan sementara.. akan tetapi, hadapkanlah wajahmu sentiasa kepada Allah.. Penuhkanlah jiwa dan hatimu dengan dzikrullah memuji kebesaranNya. Juga sibukkanlah hari-harimu dengan amalan makruf nahi mungkar, mengikut sunnah kekasihNya.

Yakinlah, barangsiapa yang dihatinya ada Allah, dan mengutamakan Allah atas segala apa yang dilakukannya, Allah akan seiringkan pekerjaannya dengan pertolonganNya. Bekerja keraslah engkau untuk hari esokmu yang abadi. Berbekallah dengan amalan yang menguntungkanmu di sana nanti. Ingatlah, sebaik-baik bekalan adalah taqwa.

Duhai diri yang lemah.. Kembalikanlah hatimu kepada Rab.. Kerana Dia lah pemilik segala yang engkau miliki.. Segalanya hanya pinjaman untuk menguji. Kentalkanlah semangat juangmu. Jadilah seperti syaidatina Aisyah, puterinya Syaidina Abu Bakar..

Walau fitnah mencalar maruah, Dia tetap Aisyah! Walau rumahtangganya di landa badai anggkara si munafiq durjana, tetap teguh pendiriannya, menggunung tawakalnya. Pada Allah dia berdoa, mengharap furqan agar tenggelam segala nista. Insafilah duhai diri yang lemah, Allah sengaja menguji sekeping hati yang kecil.. sebagai tukaran untuk mendapatkan habuan yang lebih besar kelak.

Maka bersyukurlah.. bersyukurlah.. bersyukurlah kerana engkau insan terpilih.

Wednesday, 27 April 2011

Seindah Mawar Berduri...Part 2

~Sesegar hijau daunan, begitulah kita diibaratkan…tiada siapa yang bisa memisahkan kita…antara kita semua…~

Dari tangga kamsis lagi, lagu favourite Hijriah itu bergema kedengaran. Kuat sekali. Khazinatul Asrar menggeleng–gelengkan kepalanya dan terus menyusun langkah menuju ke biliknya tyang terletak di barisan ketiga, level 1. Tidak syak lagi, irama nasyid dendangan In-team itu memang datang dari biliknya. Dia dapat menduga bahawa Hijriah pasti ada di dalam bilik.

“Assalamualaikum, Hijriah. Asrar balik nie!” pintu yang tidak berkunci itu dikuaknya perlahan–lahan. Salamnya tiada jawapan. Didapatinya Hijriah sedang tidur dengan bantal ditelangkupkan diatas kepala. Kipas siling berputar ligat dengan penunjuk mengarah full. Lagaknya bagaikan orang yang ada masalah.
Khazinatul Asrar memperlahankan volume radio kerana bimbang mengganggu penghuni lain. Serentak dengan itu Hijriah terjaga dari lenanya yang mungkin tidur – tidur ayam sahaja.

“Eh, Asrar dah balik rupanya…” Hijriah berkata lembut sambil membetulkan kedudukan bantalnya. Khazinatul Asrar mengukir senyuman. Perlahan–lahan dia menghampiri Hijriah dan duduk di sebelahnya. Tangannya menjamah dahi Hijriah.

“Tak panas pun!” kata Khazinatul Asrar perlahan.
“Sejak bila pula saya demam?” balas Hijriah bersahaja.
“ Habis tue kenapa tak datang kuliyah pagi nie?” tanya Khazinatul Asrar pula.

“Err…topik baru ke hari nie?” Hijriah cuba mengalih perbualan.
“Hijriah…saya tanya nie!” Khazinatul Asrar tidak mahu Hijriah menyembunyikan sesuatu. “Kenapa nie?” Khazinatul Asrar memujuk lembut.

“Tak ada apa–apa…betul!” Hijriah masih membuat aksi selamba.
“Habis tue, pagi tadi awak bersiap–siap bukan untuk ke kuliyah?”
Khazinatul Asrar masih tidak berpuas hati dengan jawapan Hijriah.
“Saya ke Mini Market. Beli Coklat Dairy Milk 10 packs untuk hilangkan tension,” jelas Hijriah berterus–terang.

“Kalau tak percaya, tengok dalam basket tu. Penuh plastik coklat, kan?!” Hijrah menguatkan kenyataannya.
“Hilangkan tension dengan coklat??? Hijrah yang saya kenali biasanya menatap Al- Quran bila ada masalah,” getus Khazinatul Asrar masih curiga.

“Saya tak ada apa- apa. Percayalah Asrar! Saya Cuma tension sikit saja pagi tadi…sekarang dah okey,” sambil bibirnya mengukir senyuman hambar.
“Kenapa tension sampai ponteng kuliyah?” Khazinatul Asrar terus bertanya. Hijriah terdiam.
“Ada masalah ye?! Kongsilah…” pujuk Khazinatul Asrar lagi.
“Tak ada lah…. mungkin nak period kot sebab tulah rasa tension,” Hijriah terus berdalih.
“ Period? Bukankah baru seminggu lepas….” Khazinatul Asrar mencelah. Mematahkan alasan yang mungkin sengaja direka–reka.

“Hijriah, kalau ada masalah, saya sentiasa bersama awak. Saya sentiasa sedia mendengar apa saja. Janganlah macam ni…” Khazinatul Asrar masih tidak jemu memujuk sahabatnya.

Raut wajah Hijriah jelas menyembunyikan sesuatu. Dia tetap enggan menceritakannya kepada Khazinatul Asrar. Tidak seperti selalu. Dia sebenarnya seorang yang ceria dan berterus – terang. Namun, tidak untuk kali ini….

“Alah Asrar nie…lupakanlah perkara tue. Lain kali, saya janji tak ponteng kuliyah lagi,” Hijriah seolah – olah mula bosan dengan desakan Khazinatul Asrar.

“Betul tak ada apa- apa ni?” Khazinatul Asrar cuba menduga lagi.
“Awak dah tak percaya saya lagi ke?” kata Hijriah seakan merajuk.
“Okey,okey.. kali nie awak boleh sembunyikan sesuatu dari saya, tapi esok–esok tidak lagi, tau!”
“Oh, ya! Nie nota Tsabit tentang topik hari ni. Awal pagi esok ada presentation,” sambil nota bersampul biru itu diserahkan kepada Hijriah. Mata Hijriah sedikit terbeliak. Tangannya pantas menyambut dan membelek – belek buku nota tersebut.

“Tsabit suruh berikan kepada saya?” tanya Hijriah minta kepastian.
“Emm…” Khazinatul Asrar menjawab ringkas. Malas diceritakan kembali peristiwa tadi. Pemuda itu sering membuatkannya geram hinggakan dia terasa malas menyebut nama itu berulang kali.

“Kenapa tiba–tiba saja Tsabit boleh teringatkan saya? Pelik ni!” Hijriah bertanya sambil tangannya terus membelek–belek nota itu.
“Dia sukakan awak kot….” Khazinatul Asrar cuba mengusik, sengaja mahu melihat reaksi temannya. Tiada respon marah. Sebaliknya Hijriah mula tersenyum – senyum sendiri.
“Ish, lain pula jadinya…” Bisik hati kecil Khazinatul Asrar.

“Asrar, dia tak cakap apa-apa tentang saya?” Hijriah nampak semakin berminat bertanyakan Tsabit. Khazinatul Asrar menarik nafas. Dia mula mencari alasan untuk menyegerakan dirinya bebas dari bercakap pasal Tsabit.

“Tengah – tengah hari nie, saya nak tidur qoilulah dulu lah. Lepas zohor nanti, saya ada usrah. Petang ni pula ada meeting. Lain kali sajalah kita cakap pasal dia!” badannya terus direbahkan ke katil sambil mata dipejamkan. Sengaja diceritakan aktiviti–aktivitinya pada hari itu untuk menagih simpati Hijriah agar mengizinkannya berehat. Hijriah mencebik bibir sambil fikirannya menerawang jauh. Entah ke mana. Wajahnya kembali berserabut kerana memikirkan sesuatu.

((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((()))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))

Monday, 25 April 2011

Seindah Mawar Berduri...Part 1

“Khazinatul asrar , kau pencuri!”

Khazinatul Asrar tergamam melihat sekeping nota kecil berwarna biru lembut yang terselit di dalam buku Usul Fiqh nya. Seribu persoalan bertandang di benak fikiran.


“Apa yang aku curi?” bisiknya sendiri penuh kehairanan.

Matanya liar memerhati sekeliling dewan kuliah, manalah tahu kalau–kalau ada mata yang sedang melihat reaksinya tatkala dia menatap nota itu…mata yang mungkin sedang nakal melihatnya dirinya diperlakukan begitu. Namun tiada seorang pun daripada rakan sekuliahnya yang menunjukkan reaksi yang mencurigakan. Masing–masing sibuk dengan kerja sendiri.

“Biarkanlah..!!” hatinya berbisik lagi . Dia tidak mahu menyerabutkan fikirannya untuk berfikir soal nota kecil itu yang dirasakan suatu gurauan semata–mata.

Lengan jubahnya ditarik sedikit untuk melihat jam di tangannya. Sudah pukul 8.50 pagi! 10 minit lagi kelas Usul Fiqh akan bermula. Sekejap saja lagi Dr.Maisarah yang sering mengawali waktu akan masuk untuk memulakan sessi kuliyahnya. Tepat seperti apa yang disangka, derapan laju tapak kasut seorang wanita 40-an itu memang cukup dikenalinya. Masuklah doktor falsafah dalam bidang Pengajian Islam
itu. Tatkala itu juga, barulah Khaznatul Asrar sedar bahawa kerusi di sebelahnya masih kosong.

“Mana Hijriah?” getus hatinya. Pandangannya terbuang keluar pintu dewan untuk mencari–cari kelibat rakan sebilik, sekamsis dan sekuliahnya itu kalau-kalau dia terlewat datang. Hampa.

“Mungkin dia kurang sihat…kasihan dia tak dapat mengikuti kuliah hari nie. Tapi…betulkah dia sakit? kalau demam sikit–sikit tu, dia tak mungkin tinggalkan kelas. Hijriah bukan begitu orangnya…” hatinya berbicara sendiri. Sedikit rasa bimbang datang bertamu.

“Hijriah tak datang hari ni? Err , boleh saya duduk sini?”
Lamunan Khazinatul Asrar terhenti oleh sapaan Tsabit yang tiba–tiba datang melabuhkan punggung di sebelahnya tanpa diundang. Khazinatul Asrar hanya mampu berdiam diri, jiwanya beristighfar panjang kerana tidak selesa didampingi oleh seorang lelaki ajnabi. Apatah lagi lelaki itu memang sejak dulu lagi sering untuk cuba untuk mendekatinya tetapi tidak pernah dilayan.

Pelajar–pelajar Fakulti Pengajian Islam, UKM terus memfokuskan perhatian kepada Dr.Maisarah sebaik sahaja kelas bermula.

“Kenapa sorang jea hari nie? Mana Hijriah?” tersembul pertanyaan itu dari mulut Tsabit sedangkan Dr.Maisarah sedang lantang memberikan kuliahnya. Seolah–olah dia ingin memulakan perbualan. Konsentrasi Khazinatul Asrar terganggu seketika. Bibirnya digetap. Geram. Astargfirullah…

“Maafkan saya, saudara. Kita di dewan kuliah sekarang nie!” Khazinatul Asrar bernada agak tegas tanpa menjeling sedikitpun kepada Tsabit apatah lagi untuk menoleh. Dia tidak mahu membuka ruang kepada Tsabit yang sering mencari peluang.

Pandangannya tetap setia tertumpu pada Dr.Maisarah namun pertanyaan Tsabit itu membuat fikirannya melayang memikirkan Hijriah yang tidak datang ke kuliah. Persoalan–persoalan yang berlegar di mindanya ditambah pula dengan ketidakselesaan didampingi Tsabit menyebabkan dia tewas untuk memberikan sepenuh perhatian kepada syarahan Dr.Maisarah. Dalam sedar mahupun tidak , fikirannya melayang entah kemana.

Wajah Hijriah berlegar–legar disudut ingatan. Masakan tidak, Hijriah bersiap–siap seperti biasa pagi tadi. Ceria seperti hari–hari biasa. Langsung tiada tanda-tanda yang menunjukkan dia sakit. Tak mungkin tiba–tiba sahaja dia jatuh sakit. Apa yang telah terjadi kepadanya?

Terbit pula kesalan dihatinya kerana tidak pergi ke dewan kuliah bersama–sama Hijriah. Bukan apa, Hijriah suka datang lambat sedangkan Khazinatul Asrar lebih gemar datang awal ke dewan kuliah agar bolehlah dia mengulangkaji secara ringan sebelum kuliyah bermula.

Tsabit yang menyedari dirinya telah menimbulkan kemarahan Khazinatul Asrar lagi, mula memberikan sepenuh perhatian kepada syarahan Dr.Maisarah. Dia
selalu tersilap waktu untuk cuba mendekati gadis pujaannya itu. Lantaran itu, setiap kali cuba mendekati Khazinatul Asrar, dia pasti dimarahi secara lembut tetapi tegas olehnya. Malah, sejak awal perkenalan, dia tidak pernah diberi walau seulas senyuman sekalipun. Namun, Tsabit adalah seorang pemuda yang tidak mengenal erti serik dan jemu. Sopan santun, kelembutan, keayuan, akhlak dan keperibadian Khazinatul Asrar membakar semangatnya untuk tidak tewas memenangi hati gadis tersebut. Saban waktu, malamnya ditemani mimpi seraut wajah yang bermahkotakan tudung labuh sebagai penghias diri dan dilindungi jubah, sunnah sahabiah. Dia igaukan seorang bidadari yang beridentitikan Muslimah sejati.

‘Tomorrow…please present this topic. Assalamualaikum..’” Dr Maisarah mengakhiri sesi kuliyahnya yang telah sejam berlalu.

“Astargfirullahal azhim…apa yang aku dapat hari ni?” spontan Khazinatul Asrar menuturkan kata–kata itu membuatkan Tsabit berpaling kepadanya. “Kenapa Asrar?” Tsabit memberanikan diri bertanya. Prihatin.
“Err.. nothing!” Khazinatul Asrar cepat–cepat berdalih dan mula menyibukkan diri mengemas buku–buku di hadapannya.

“Saya tahu, awak tak salin apa–apa nota tadi, kan? awak fikirkan sesuatu ye?!” Tsabit cuba menduga. Memang sepanjang kuliah matanya sering menjeling-jelling. Khazinatul Asrar bingkas bangun dari kerusinya untuk segera mengakhiri perbualan yang tidak diminta itu.

“Maaf, saya nak pulang dulu,” getusnya seolah–olah acuh tak acuh dengan pertanyaan Tsabit.
“Ish, sombongnya!” keluh Tsabit.

“Sombong pun sombonglah.. thanks!’” balas Khazinatul Asrar bersahaja. Langkahnya mula diatur. Pantas Tsabit memintasnya.

“Nanti…!” halang Tsabit. Khazinatul Asrar menundukkan pandangannya. Tidak sanggup untuknya menentang renungan mata dari pemuda yang berdarah Melayu-Libya itu. Dia hanya mampu mendengus lemah. Geram bila langkahnya disekat. Hatinya berzikir.

“Err…Kalau awak sudi, pinjamlah nota saya nie,” sambil tangannya menghulurkan sebuah buku nota yang cantik bersampul biru muda.

“Terima-kasih jealah…saya boleh merujuknya semula dengan rakan-rakan perempuan yang lain,” balas Khazinatul Asrar. Menolak.

“Kalau macam tue, awak tolonglah pinjamkan nota saya nie untuk Hijriah.” Tsabit masih tidak berputus asa. Dia tahu Hijriah sebilik dengan Khazinatul Asrar. Masih ada strategi lain!

“Sekali lagi, terima kasihlah saudara. Hijriah pun boleh merujuk nota lain bersama saya nanti. Lebih baik saudara bawa pulang saja nota saudara nie dan buat revision untuk presentation esok,” tegas Khazinatul Asrar.

“Ish, sombong betullah. Tak baik tau! Allah tak suka orang sombong. Baca dalil karang, baru tau…” Tsabit mula geram dengan penolakan demi penolakan.

“Jangan memandai dengan dalil, tengok situasilah. Allah lagi tak suka orang…” kata-kata Khazinatul Asrar cepat–cepat dipotong….

“Awak memang tak sudi dengan nota saya dan macam–macam alasan awak bagi. However, saya amanahkan awak pinjamkannya untuk Hijriah.” Tsabit bernada merajuk dan meninggalkan notanya diatas kerusi sambil berlalu pergi. Khazinatul Asrar menggeleng–gelengkan kepalanya. Dia berasa geli hati dengan perbuatan Tsabit yang beria–ria untuk meminjamkan buku notanya. Bagaikan hanya dia seorang sahaja yang menyalin nota Dr.Maisarah. Setelah difikir–fikir, Khazinatul Asrar akhirnya membawa pulang nota Tsabit itu untuk diberikan kepada Hijriah memandangkan perkataan ‘mengamanahkan’ yang Tsabit tuturkan.

Langkahnya disusun kemas untuk pulang ke kamsisnya. Lamunan tentang Hijriah hadir lagi, seolah–olah episodnya bersambung sejak dari dewan kuliah tadi. Hijriah belum pernah ponteng kuliah seperti hari ini. Sebagai teman sebilik, dia terlalu ingin tahu keadaan Hijriah di saat itu. Sakitkah dia? Khazinatul Asrar mula berasa bersalah terhadap dirinya sendiri yang mungkin terlalu sibuk mengejar waktu hingga agak mengabaikan situasi teman sebiliknya itu sejak kebelakangan ini. Penglibatannya sebagai salah seorang perwakilan pelajar PMUKM ( Persatuan Mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia ) sudah cukup membuatkan hari–hari yang dilaluinya terlalu padat dan singkat. Tenaga, wang dan waktu lapang banyak dikorbankan untuk perjuangannya di kampus itu. Waktu malamnya pula dihabiskan untuk menyiapkan assignment di Perpustakaan Tun Sri Lanang, perpustakaan terbesar di asia tenggara. Baginya tiada istilah rehat selagi dia tidak mampu menyeimbangkan sebijaksana mungkin masa yang dia ada untuk menunaikan tanggung jawab.

Khazinatul Asrar menyedari kebenaran kata–kata As-Syahid Al-Iman Hassan Al-Banna:
“…kewajipan yang perlu kamu lakukan lebih banyak daripada masa yang kamu ada.”

((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((()))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))

Friday, 22 April 2011

nasruun minaALLAH

Kerap kali hati ini merintih lemah meminta dan mengharapkan daripada Allah swt. Sesungguhnya sangat banyak cabaran yang telah dilalui dan kadangkala ianya seperti memaksa kita untuk meninggalkan jalan ini. Nauzubillah.

Inilah fitrah kita selaku makhluk yang bernama manusia. Tidak pernah lekang dengan sifat cuai kerana kita bukanlah diciptakan sempurna. Mungkin selama ini kita terasa kuat dalam menghadapi mehnah pada jalan ini tetapi akan tiba suatu masa kita akan dikunjungi perasaan lemah dan malas yang akan menusuk hati kita secara perlahan-lahan. Ketika itu hati akan mula memberontak dan akhirnya dengan mudah syaitan laknatullah menjalankan misi mereka untuk menarik kita mengikuti jalan toghut.

Sebagai seorang pejuang dalam agama ini, kita seharusnya bergembira dengan firman Allah dalam surah al-Baqarah:

Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cubaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cubaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah:214)

Dalam ayat tersebut Allah menyatakan ujian yang diberikan adalah untuk menjadi bukti bahawa para pejuang kebenaran ini adalah seorang yang benar-benar beriman dan ikhlas berjuang hanya kerana ingin menggapai mardhotillah. Inilah hakikat perjuangan, tiada erti senang lenang di dalam kamus hidupnya, yang ada dalam catatan hariannya cumalah perkara yang perit dan penuh dengan pengajaran untuk dibawa sebagai bekalan menempuh hari-hari mendatang yang menjanjikan seribu kesukaran lagi.

Tetapi, walaupun begitu susah perjuangan ini, mereka tidak semudah itu untuk mengalah. Lihat sahaja kisah Bilal bin Rabah, Mus’ab bin Umair dan Khabab yang dikurniakan dengan ujian yang menggetarkan iman, tetapi kerana keimanan yang tinggi kepada Allah, maka mereka diberi keistimewaan berada disamping Allah.

Ayuh pejuang!!! Bangkitlah dari kelemahan diri ini, ingatlah bahawa ujian itu sebagai mahar yang perlu dibayar untuk mendapatkan syurga dan semoga jerih lelah kita menunaikan mahar ini akan menjadi sirna ketika berhadapan dengan Allah kelak.

Perjuangan ini penuh onak duri dan segala macam rintangan, tetapi walaupun rintangan itu setinggi langit, ingatlah bahawa Allah sentisa berada di sisi kita.

iluvislam.com

Wednesday, 20 April 2011

Mawarku...

titipan : iluvislam

Hatiku resah,
Melihat sekuntum mawar hilang serinya,
Layunya dipetik tangan-tangan nakal,
Dikasari dengan kejam,
Adakah layaknya layanan seperti itu kepadamu?
Namun, adakah itu salah tangan-tangan yang memetikmu,
Atau dirimu terlalu mekar indah di taman,
Sehingga membangkitkan nafsu yang melihat.

Mawarku,
Tintaku tiada hentinya di sini,
Kau terlalu cantik,
Sehingga Allah menurunkan wahyu kepadamu,
An Nisa' menjadi saksi peraturan kepadamu,
Bahawa dirimu berhak dilindungi lelaki soleh.

Mawarku,
Usah kau pamerkan perhiasaanmu,
Usah kau megahkan kecantikanmu,
Kerana dirimu sememangnya perhiasaan dunia,
Setiap inci tubuhmu bakal menjadi santapan durjana,
Sekiranya kau biarkan kecantikan dirimu terdedah.

Mawarku,
Biarlah kau umpama mutiara terlindung,
Hanya dimiliki oleh insan yang ditakdirkan olehNya,
Allah itu adil dan saksama,
Walaupun kau insan lemah,
Namun imanmu jangan dibiarkan lemah.

Mawarku,
Jangan biarkan kelopakmu gugur menyembah bumi,
Lindungilah dirimu dengan shauqahmu,
Balutilah dirimu dengan sifat malu,
Jagalah akhlak dan imanmu,
Peganglah pada prinsip yang satu Innallahhama'ana..

Tuesday, 19 April 2011

Cinta Seorang Pemuda

©              Saya suka tengok jari-jemari teman wanita saya, cantik betul. Sungguh! Sampai saya takut nak pegang. Bukan takut jari-jemarinya patah, tapi takut nanti jari-jemari kami tidak boleh saling bantu-membantu di satu hari yang amat dahsyat di hadapan Yang Maha Esa!

©              Saya suka sangat tengok rambutnya. Cantik betul... sungguh! Sebab itu saya belikan dia tudung. Bukan sebab cemburu orang lain tengok, bukan! Tapi sebab saya mahu rambutnya sentiasa ditutup macam dalam iklan dot dot dot itu sampai bila-bila... takut nanti dibakar dek api neraka, di suatu hari yang amat dahsyat di hadapan Yang Maha Pencipta!

©              Saya suka sangat tengok body teman wanita saya... solid betul. Sungguh sebab itu saya belikan telekung supaya masa `dating` dengan Kekasih dia yang Utama, dia jauh lebih cantik dan berseri mengadap-Nya. Saya pun tumpang dapat pahala... syoknya!

©              Saya sedih sangat bila tengok teman wanita saya tidak tidur, tidak makan, sebab rindukan saya. Saya pun macam tu juga. Si dia tanya, `apa ubatnya, bang?` saya pun baginya Al-Quran sebagai penenang jiwa... semoga dia cintakan-Nya lebih      daripada saya.

©              Saya sedih tengok selalu pesan macam-macam; “makan, minum, jaga diri, pandu kereta elok-elok... nanti awak saya juga yang susah hati... bla bla bla tapi bila tengok wayang sama-sama, terlepas asar dan maghrib begitu saja, dia tidak kata satu apa pun. Aduuuh.. berdosanya saya!

©              Saya memang sayang sangat pada dia. Saya mahu jumpa dia, bersama dia, cinta secinta-cintanya. Cinta yang abadi di dunia dan berkasih sayang di akhirat, ber`dating` di syurga kerana di situlah tempat yang kekal selama-lamanya.

©              Doakan kami saling ingat-mengingati, insaf-menginsafi. Ya Allah, ampunkanlah kami.. semoga kami dapat kekal bersama selama-lamanya, di Syurga nanti. Amin...

Monday, 18 April 2011

Aku Sudah Bertunang

"Aku Sudah Bertunang"     Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah ianya baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya beberapa minggu lalu. Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada. Benar, aku berusaha berlapang dada. Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yang mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.  


 Aku hanya seorang insyirah. Tiada kelebihan yang teristimewa, tidak juga punya apa-apa yang begitu menonjol. Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli mahupun bisu. Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa bercakap dengan lidahku yang lembut tidak bertulang. Sama seperti manusia lain.   


Aku bukan seperti bondanya Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku hanya seorang Insyirah yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama... Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.   


Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabiah yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tangan ku memakai cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan. Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu. Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.  


 Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila.   "Hari menikah nanti nak pakai baju warna apa?"   Aku menjawab tenang.. "Warna putih, bersih..."   "Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat."   "Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah. Jangan berlebihan."   Ibu angguk perlahan.   Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu... helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh nubari aku sebagai hamba Allah.


 Malam Pertama... Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mahu saja aku menangis semahunya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang menetapkan tarikhnya kerana aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Mudah-mudahan ya Allah.   Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran. Aku mahu sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang... As-Syifa' aku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resah aku menanti. Benar, aku sedang memujuk gelora hati. Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, begini rasanya orang-orang yang mendahului.  


 "Kak Insyirah, siapa tunang akak? Mesti hebat orangnya. Kacak tak?"   Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yang singgah. Maaf, aku masih mahu merahsiakan tentang perkara itu. Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahawa aku sudah bertunang, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.   "Insya Allah, 'dia' tiada rupa tetapi sangat mendekatkan akak dengan Allah. Itu yang paling utama."   Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku. Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu diraikan. Aku tersenyum lagi.   "Jangan lupa jemput ana di hari menikahnya, jangan lupa!"   Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya. Apa yang mampu aku zahirkan ialah senyuman dan terus tersenyum.


 Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan 'dia' yang mendekatkan aku dengan Allah. Sahabiah juga merasa kehilangan ku apabila setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa' ku al-Quran, tidak lain kerana aku mahu kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.   "Bila enti menikah?"   Aku tiada jawapan khusus.   "Insya Allah, tiba waktunya nanti enti akan tahu..." Aku masih menyimpan tarikh keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu bila tarikhnya.   "Jemput ana tau!" Khalilah tersenyum megah.   "Kalau enti tak datang pun ana tak berkecil hati, doakan ana banyak-banyak!" Itu saja pesanku.


 Aku juga tidak tahu di mana mahu melangsungkan pernikahan ku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati.   "Insya Allah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti..."   Rahsia ku adalah rahsia Allah, kerana itu aku tidak mampu memberikan tarikhnya. Cuma, hanya termampu aku menyiapkan diri sebaiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara terkejut seperti orang lain. Semuanya aku sedaya upaya siapkan, baju menikahnya, dan aku katakan sekali lagi kepada ibu...   "Usah berlebihan ya..."   Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.   "Insyirah, jom makan!"   Aku tersenyum lagi... Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.   "Tafaddal, ana puasa."   Sahabiah juga semakin galak mengusik.   "Wah, Insyirah diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat... Tarikhnya tak tetap lagi ke?"   "Bukan diet, mahu mengosongkan perut. Maaf, tarikhnya belum ditetapkan lagi."   Sehingga kini, aku tidak tahu bila tarikhnya yang pasti. Maafkan aku sahabat, bersabarlah menanti hari tersebut. Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak. Doakan aku, itu sahaja.   ..............................
.........   "innalillahi wainna ilaihi rajiun..."   "Tenangnya... Subhanallah. Allahuakbar."   "Ya Allah, tenangnya..."   "Moga Allah memberkatinya...."   Allah, itu suara sahabat-sahabat ku, teman-teman seperjuangan aku pada ibu.  


 Akhirnya, aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Sahabiah ramai yang datang di majlis walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.   Akhirnya, mereka ketahui sosok 'dia' yang mendekatkan aku kepada Allah. Akhirnya, mereka kenali sosok 'dia' yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum. Akhirnya, mereka sama-sama mengambil 'ibrah dari sosok 'dia' yang mengkhitbah ku.   Dalam sedar tidak sedar...   Hampir setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku... Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa'nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi. Sayup-sayup hatinya merintih. Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu. 


  "Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan 'dia' yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyedarkan aku tentang dunia sementara, yang menyedarkan aku tentang alam akhirat. Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau redhai, aku hamba Mu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui..."   


Akhirnya, Khalilah bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian...   "Insyirah bertunang dengan siapa, mak cik?"   Ibu tenang menjawab... "Dengan kematian wahai anakku. Kanser tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya. Kata doktor, Insyirah hanya punya beberapa minggu sahaja sebelum kansernya membunuh."   "Allahuakbar..." Terduduk Khalilah mendengar, air matanya tak mampu ditahan.   "Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama..."   Ibu angguk, tersenyum lembut... "Ini nak, bukunya." Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr 'Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk 'Malam Pertama di Alam Kubur'.   "Ya Allah, patut la Insyirah selalu menangis... Khalilah tak tahu mak cik."   "Dan sejak dari hari 'khitbah' tersebut, selalu Insyirah mahu berpuasa. Katanya mahu mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan..."   Khalilah masih kaku. Tiada suara yang terlontar. Matanya basah menatap kalam dari diari Insyirah yang diberikan oleh ibu.   "Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku di risik oleh MAUT. Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti tarikhnya dengan mendekatkan diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, kerana ibuku bernama Ummu Sulaim, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu dipulangkan apabila ALLAH meminta. Dan ibu mengambil 'ibrah bukan dari namanya (Ummu Sulaim) malah akhlaqnya sekali. Ummu Sulaim, seteguh dan setabah hati seorang ibu."

Membuka Kunci Yang Pertama



alt
Usai menelaah buku, aku terfikir akan beberapa perkara. Kehidupan manusia dan alam ini cukup misteri. Sungguh banyak benda yang tidak kita ketahui. Cuma hairan juga bila melihat ramai manusia yang menyombongkan diri.

Teringat akan kupasan menarik dari buku Mukmin Profesional. Al-Quran itu kitab suci, tapi mengapa ada cerita manusia yang paling keji?
Dalamnya ada kisah Firaun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Dalamnya ada kisah kaum Nabi Lut yang mengamalkan homoseksual. Dalamnya ada kisah kaum Nabi Nuh yang menyembah berhala.
Harta Qarun
Jawapannya? Cari sendiri =)
Kali ini aku ingin berkongsi akan satu rahsia yang baru kufahami seketika tadi. Sudah lama kita tuturkan perkataannya namun baru sekarang aku mengerti maksudnya.
Kata Mr.X:
"Untuk berjaya kita mesti berupaya MENGAWAL diri kita"
"Untuk berjaya kita mesti berupaya MENGAWAL diri kita"
"Untuk berjaya kita mesti berupaya MENGAWAL diri kita"
Tiga kali diulang. Perkataan MENGAWAL ditekankan.
"Ingat KAWAL, bukannya menukar atau mengubah diri...tapi MENGAWAL diri"
Keupayaan seseorang untuk mengawal diri merupakan satu kunci yang cukup penting untuk menguasai diri. Orang yang tidak mampu mengawal diri akan jatuh ke dua hujung yang melampau.
Tambah Mr.X,
"Self-control is the key to self-mastery"
Dua komponen perlu diaktifkan untuk mengawal diri:
1. Pemikiran
2. Perbuatan
Pemikiran di sini merujuk kepada suara dari dalam diri kita. Suara hati dengan kata lain. Suara hati yang TEKAD ingin belajar bersungguh-sungguh perlu digabungkan dengan USAHA yakni perbuatan belajar bersungguh.
Sekiranya kita dapat mendisiplinkan diri untuk konsisten mengawal pemikiran dan perbuatan kita, maka kita akan dapat mengawal diri kita.
Bila kita dapat mengawal diri kita, maka kita sudah mula membuka kunci yang pertama!